Support WAA

Dikirim Oleh Headquarter Denmark | Aceh | Sabtu 11 Juli 2009 13:07

Support and Success WAA Programs Year 2009

Dear World Acehnese.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

We are all people of Aceh who joined in the World Acehnese Association (WAA), in the near future and in this year 2009 will complete some of programs for the interest of our Nation, our Country, it is Aceh Nation.

The Programs that will be running are :

1. Sustainable Education Campaign Program for children successor generation of Aceh.

2. WAA Peace Action Program in Berlin -Jermany the theme is Sustainability of Peace in Aceh planned to be conducted at the end of June or early July 2009.

3. Writing Competition Program the theme is Conflict and Peace in Aceh is planned to be held in July-August 2009 and will be followed by the entire Aceh Nation.

4. WAA Petition Program that will be submitted to new Aceh Parliament.

5. The first WAA Silaturahmi Ban Sigom Donja Program.

6. Anniversary of 4 years of Peace Agreement between GAM and Indonesia on 15 August 2009.

7. Anniversary of the Struggle Days on 4 December 2009.

8. Anniversary of 5-years the Earthquake and Tsunami Disaster on 26 December 2009.

9. Anniversary of the Universal Human Rights Day in December 2009.

10. Cultural programs.

11. Humanitarian programs for Aceh.

12. Introduction campaign program of Aceh nation in the foreign countries with all of the efforts.

13. Inure Acehnese spirit for the Aceh children who live in abroad

14. And other programs for the interest of the Aceh Nation

In this case in order to achieve and success all of the programs that have been planned in the interest of the Aceh Nation, therefore it is really need assistance in all sectors particularly for funding from all of Acehnese throughout World.

For all of the funds to be collected for further use in the WAA Center area will be reported to the entire country WAA representatives. WAA Center also reserve the right to funds for special WAA events throughout the country WAA representatives than Denmark, if the funds are collected at the WAA Center.

Funds also can be sent through individual or group. Donations could be send to the official WAA account address below:

World Achehnese Association

Danske Bank
Reg.nr: 1551
Konto/account/rekening: 10401062
IBAN: DK67 3000 0010 4010 62
SWIFT-BIC: DABADKKK

We are thanking you in advance for all support and assistance that has been provided.

Your Sincerely,

Fjerritslev, Denmark
Tuesday, 16 June 2009

Tarmizi Age/Mukarram
World Achehnese Association (WAA)
Ban sigom donja keu Aceh!

Sekretariat:
World Achehnese Association
Mølleparken 20. 9690 Fjerritslev,
Denmark.
acehwaa@gmail.com
http://www.waa-aceh.org
Mobile: +45 24897172
CVR-nr. 31910587

————————–

Dukung dan Sukseskan Program WAA Tahun 2009

Salam Sejahtera Kepada
Yang Mulia Saudara Aceh se-Dunia

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Kita seluruh masyarakat Aceh yang tergabung dalam World Acehnese Association (WAA) dalam waktu dekat maupun dalam tahun 2009 ini akan menyelesaikan beberapa program demi kepentingan untuk Bangsa kita, Tanah Air kita yaitu Bangsa Aceh.

Program yang sedang dan akan di jalankan adalah :

1. Program Kampanye Pendidikan untuk anak- anak penerus generasi Bangsa Aceh secara berkelanjutan.

2. Program-program kemanusian untuk Aceh

3. Program pengenalan Aceh secara terus menerus di luar negeri dengan segala upaya yang ada

4. Membudidayakan nilai dan semangat keacehan bagi anak-anak Aceh di luar negri

5. Program Aksi Damai WAA di Berlin- Jermany yang bertemakan Keberlanjutan Perdamaian Aceh yang rencanya akan di laksanakan pada akhir Juni ataupun awal Juli 2009.

6. Program Sayembara Menulis yang bertemakan Konflik dan Damai Aceh yang rencananya akan diselenggarakan pada Juli- Agustus 2009 dan akan di ikuti oleh seluruh Bangsa Aceh.

7. Program Penyusunan Petisi WAA yang akan di serahkan kepada Parlemen baru Aceh.

8. Program Silaturahmi Ban Sigom Donja WAA yang pertama (I).

9. Pelaksanaan memperingati 4 tahun Perjanjian Damai antara GAM dan RI pada tanggal 15 Agustus 2009.

10. Pelaksanaan memperingati hari Perjuangan pada tanggal 4 Desember 2009.

11. Pelaksanaan memperingati 5 tahun Bencana Gempa dan Tsunami pada tanggal 26 Desember 2009.

12. Pelaksanaan memperingati hari HAM sedunia pada bulan Desember 2009.

13. Program- program Budaya.

14. Dan program- program lain yang di anggap berkepentingan untuk Bangsa Aceh.

Dalam hal ini demi tercapai dan sukses nya seluruh program- program yang telah di canangkan demi kepentingan Bangsa Aceh, maka sangatlah di perlukan segenap bantuan di segala sektor dari saudara Aceh sedunia.

Untuk semua dana yang akan terkumpul untuk selanjutnya di pergunakan di wilayah WAA akan dilaporkan ke seluruh negara perwakilan WAA sedunia. WAA Center juga berhak mengeluarkan dana untuk acara- acara khusus WAA di seluruh negara perwakilan WAA selain Denmark, jika memang ada dana yang terkumpul di WAA Center.

Dana tersebut bisa dikirim baik melalui perorangan maupun perkelompok.

Sumbangan dana dapat di kirimkan ke alamat rekening resmi WAA di bawah ini:

World Achehnese Association

Danske Bank
Reg.nr: 1551
Konto/account/rekening: 10401062
IBAN: DK67 3000 0010 4010 62
SWIFT-BIC: DABADKKK

Sebelum nya kami ucapkan terima kasih yang setinggi- tingginya atas segala dukungan dan bantuan yang telah di berikan.

Saleum Meusyen

Fjerritslev, Denmark
Selasa, 16 Juni 2009

Tarmizi Age/Mukarram
World Achehnese Association (WAA)
Ban sigom donja keu Aceh!

Sekretariat:
World Achehnese Association
Mølleparken 20. 9690 Fjerritslev,
Denmark.
acehwaa@gmail.com
http://www.waa-aceh.org
Mobile: +45 24897172
CVR-nr. 31910587

& Komentar »

  1. Komentar oleh rakanlon — 07/13/2009 @ 11:46

    Ahlan, mari dukung dan bantu dalam berbagai segi demi tercapainya program WAA di seluruh dunia.

  2. Komentar oleh Syukri — 11/28/2009 @ 03:50

    doa ngen dukungan dari loen di bireuen ke mamandum team waa di lua,menyetujuan ngen niet ureng droe jroeh ALLAH SWT geu peuidin.saleum dari loen ke mandum bansa atjeh di lua.

  3. Komentar oleh polis acheh Denkmark — 12/23/2009 @ 18:51

    wa’anlaikom salam
    teurimoeng geunaseh ateuh saleum tgk.
    kamoe di lua sabe-sabe seumangat peu mantoeng yang kamoe peulaku ….saluem balek keu syedara2 yang na di biruen

  4. Komentar oleh Teuku muhd.ikhsan — 01/10/2010 @ 17:14

    …asww..hn kata yg suci, kcuali saleum prjuangan & Rahmat ALLAH keu ureung droeuneuh disanan mndum..smga beu kong prsatuan Ureung lon pat-pat mnteng…Amiin yarabbal alamin…lon lake tlong sige teuk..nue usha siat lon beutrok knan, kbn cra ureung syik lon..neupike siat…trimong gnseh…

  5. Komentar oleh sabri ichsan — 02/04/2010 @ 05:46

    KERAJAAN ACEH DARUSSALAM 407 TAHUN ( 1496 – 1903 M )

    Bendera Alam Peudeung – Bendera Kerajaan Aceh Darussalam

    Kerajaan Aceh Darussalam berdiri menjelang keruntuhan Samudera Pasai. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, pada tahun 1360 M, Samudera Pasai ditaklukkan oleh Majaphit, dan sejak saat itu, kerajaan Pasai terus mengalami kemudunduran. Diperkirakan, menjelang berakhirnya abad ke-14 M, kerajaan Aceh Darussalam telah berdiri dengan penguasa pertama Sultan Ali Mughayat Syah yang dinobatkan pada Ahad, 1 Jumadil Awal 913 H (1511 M) . Pada tahun 1524 M, Mughayat Syah berhasil menaklukkan Pasai, dan sejak saat itu, menjadi satu-satunya kerajaan yang memiliki pengaruh besar di kawasan tersebut. Bisa dikatakan bahwa, sebenarnya kerajaan Aceh ini merupakan kelanjutan dari Samudera Pasai untuk membangkitkan dan meraih kembali kegemilangan kebudayaan Aceh yang pernah dicapai sebelumnya.

    Pada awalnya, wilayah kerajaan Aceh ini hanya mencakup Banda Aceh dan Aceh Besar yang dipimpin oleh ayah Ali Mughayat Syah. Ketika Mughayat Syah naih tahta menggantikan ayahnya, ia berhasil memperkuat kekuatan dan mempersatukan wilayah Aceh dalam kekuasaannya, termasuk menaklukkan

  6. Komentar oleh sabri ichsan — 02/04/2010 @ 05:48

    kerajaan Pasai. Saat itu, sekitar tahun 1511 M, kerajaan-kerajaan kecil yang terdapat di Aceh dan pesisir timur Sumatera seperti Peurelak (di Aceh Timur), Pedir (di Pidie), Daya (Aceh Barat Daya) dan Aru (di Sumatera Utara) sudah berada di bawah pengaruh kolonial Portugis. Mughayat Syah dikenal sangat anti pada Portugis, karena itu, untuk menghambat pengaruh Portugis, kerajaan-kerajaan kecil tersebut kemudian ia taklukkan dan masukkan ke dalam wilayah kerajaannya. Sejak saat itu, kerajaan Aceh lebih dikenal dengan nama Aceh Darussalam dengan wilayah yang luas, hasil dari penaklukan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya.

    Sejarah mencatat bahwa, usaha Mughayat Syah untuk mengusir Portugis dari seluruh bumi Aceh dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil yang sudah berada di bawah Portugis berjalan lancar. Secara berurutan, Portugis yang berada di daerah Daya ia gempur dan berhasil ia kalahkan. Ketika Portugis mundur ke Pidie, Mughayat juga menggempur Pidie, sehingga Portugis terpaksa mundur ke Pasai. Mughayat kemudian melanjutkan gempurannya dan berhasil merebut benteng Portugis di Pasai.

    Kemenangan yang berturut-turut ini membawa keuntungan yang luar biasa, terutama dari aspek persenjataan. Portugis yang kewalahan menghadapi serangan Aceh banyak meninggalkan persenjataan, karena memang tidak sempat mereka bawa dalam gerak mundur pasukan. Senjata-senjata inilah yang digunakan kembali oleh pasukan Mughayat untuk menggempur Portugis.

    Ketika benteng di Pasai telah dikuasai Aceh, Portugis mundur ke Peurelak. Namun, Mughayat Syah tidak memberikan kesempatan sama sekali pada Portugis. Peurelak kemudian juga diserang, sehingga Portugis mundur ke Aru. Tak berapa lama, Aru juga berhasil direbut oleh Aceh hingga akhirnya Portugis mundur ke Malaka. Dengan kekuatan besar, Aceh kemudian melanjutkan serangan untuk mengejar Portugis ke Malaka dan Malaka berhasil direbut. Portugis melarikan diri ke Goa, India. Seiring dengan itu, Aceh melanjutkan ekspansinya dengan menaklukkan Johor, Pahang dan Pattani. Dengan keberhasilan serangan ini, wilayah kerajaan Aceh Darussalam mencakup hampir separuh wilayah pulau Sumatera, sebagian Semenanjung Malaya hingga Pattani.

    Demikianlah, walaupun masa kepemimpinan Mughayat Syah relatif singkat, hanya sampai tahun 1528 M, namun ia berhasil membangun kerajaan Aceh yang besar dan kokoh. Ali Mughayat Syah juga meletakkan dasar-dasar politik luar negeri kerajaan Aceh Darussalam, yaitu: (1) mencukupi kebutuhan sendiri, sehingga tidak bergantung pada pihak luar; (2) menjalin persahabatan yang lebih erat dengan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara; (3) bersikap waspada terhadap negara kolonial Barat; (4) menerima bantuan tenaga ahli dari pihak luar; (5) menjalankan dakwah Islam ke seluruh kawasan nusantara. Sepeninggal Mughayat Syah, dasar-dasar kebijakan politik ini tetap dijalankan oleh penggantinya.

    Dalam sejarahnya, Aceh Darussalam mencapai masa kejayaan di masa Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam (1590-1636). Pada masa itu, Aceh merupakan salah satu pusat perdagangan yang sangat ramai di Asia Tenggara. Kerajaan Aceh pada masa itu juga memiliki hubungan diplomatik dengan dinasti Usmani di Turki, Inggris dan Belanda. Pada masa Iskandar Muda, Aceh pernah mengirim utusan ke Turki Usmani dengan membawa hadiah. Kunjungan ini diterima oleh Khalifah Turki Usmani dan ia mengirim hadiah balasan berupa sebuah meriam dan penasehat militer untuk membantu memperkuat angkatan perang Aceh.

    Hubungan dengan Perancis juga terjalin dengan baik. Pada masa itu, Perancis pernah mengirim utusannya ke Aceh dengan membawa hadiah sebuah cermin yang sangat berharga. Namun, cermin ini ternyata pecah dalam perjalanan menuju Aceh. Hadiah cermin ini tampaknya berkaitan dengan kegemaran Sultan Iskandar Muda pada benda-benda berharga. Saat itu, Iskandar Muda merupakan satu-satunya raja Melayu yang memiliki Balee Ceureumeen (Aula Kaca) di istananya yang megah, Istana Dalam Darud Dunya.

  7. Komentar oleh sabri ichsan — 02/04/2010 @ 05:49

    Konon, menurut utusan Perancis tersebut, luas istana Aceh saat itu tak kurang dari dua kilometer. Di dalam istana tersebut, juga terdapat ruang besar yang disebut Medan Khayali dan Medan Khaerani yang mampu menampung 300 ekor pasukan gajah, dan aliran sungai Krueng yang telah dipindahkan dari lokasi asal alirannya.

    Sebelum Iskandar Muda berkuasa, sebenarnya juga telah terjalin hubungan baik dengan Ratu Elizabeth I dan penggantinya, Raja James dari Inggris. Bahkan, Ratu Elizabeth pernah mengirim utusannya, Sir James Lancaster dengan membawa seperangkat perhiasan bernilai tinggi dan surat untuk meminta izin agar Inggris diperbolehkan berlabuh dan berdagang di Aceh. Sultan Aceh menjawab positif permintaan itu dan membalasnya dengan mengirim seperangkat hadiah, disertai surat yang ditulis dengan tinta emas. Sir James Lancaster sebagai pembawa pesan juga dianugerahi gelar Orang Kaya Putih sebagai penghormatan. Berikut ini cuplikan surat Sulta Aceh pada Ratu Inggris bertarikh 1585 M:

    I am the mighty ruler of the Regions below the wind, who holds sway over the land of Aceh and over the land of Sumatra and over all the lands tributary to Aceh, which stretch from the sunrise to the sunset.

    (Hambalah Sang Penguasa Perkasa Negeri-negeri di bawah angin, yang terhimpun di atas tanah Aceh, tanah Sumatera dan seluruh wilayah yang tunduk kepada Aceh, yang terbentang dari ufuk matahari terbit hingga matahari terbenam).

    Ketika Raja James berkuasa di Inggris, ia pernah mengirim sebuah meriam sebagai hadiah kepada sultan Aceh. Hubungan ini memburuk pada abad ke 18, karena nafsu imperialisme Inggris untuk menguasai kawasan Asia Tenggara. Selain itu, Aceh juga pernah mengirim utusan yang dipimpin oleh Tuanku Abdul Hamid ke Belanda, di masa kekuasaan Pangeran Maurits, pendiri dinasti Oranye. Dalam kunjungan tersebut, Abdul Hamid meninggal dunia dan dimakamkan di pekarangan sebuah gereja dengan penuh penghormatan, dihadiri oleh para pembesar Belanda. Saat ini, di makam tersebut terdapat sebuah prasasti yang diresmikan oleh Pangeran Bernhard, suami Ratu Juliana.

    Ketika Iskandar Muda meninggal dunia tahun 1636 M, yang naik sebagai penggantinya adalah Sultan Iskandar Thani Ala‘ al-Din Mughayat Syah (1636-1641M). Di masa kekuasaan Iskandar Thani, Aceh masih berhasil mempertahankan masa kejayaannya. Penerus berikutnya adalah Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam (1641-1675 M), putri Iskandar Muda dan permaisuri Iskandar Thani. Hingga tahun 1699 M, Aceh secara berturut-turut dipimpin oleh empat orang ratu. Di masa ini, kerajaan Aceh sudah mulai memasuki era kemundurannya. Salah satu penyebabnya adalah terjadinya konflik internal di Aceh, yang disebabkan penolakan para ulama Wujudiyah terhadap pemimpin perempuan. Para ulama Wujudiyah saat itu berpandangan bahwa, hukum Islam tidak membolehkan seorang perempuan menjadi pemimpin bagi laki-laki. Kemudian terjadi konspirasi antara para hartawan dan uleebalang, dan dijustifikasi oleh pendapat para ulama yang akhirnya berhasil memakzulkan Ratu Kamalat Syah. Sejak saat itu, berakhirlah era sultanah di Aceh.

    Memasuki paruh kedua abad ke-18, Aceh mulai terlibat konflik dengan Belanda dan Inggris yang memuncak pada abad ke-19. Pada akhir abad ke-18 tersebut, wilayah kekuasaan Aceh di Semenanjung Malaya, yaitu Kedah dan Pulau Pinang dirampas oleh Inggris. Pada tahun 1871 M, Belanda mulai mengancam Aceh atas restu dari Inggris, dan pada 26 Maret 1873 M, Belanda secara resmi menyatakan perang terhadap Aceh. Dalam perang tersebut, Belanda gagal menaklukkan Aceh. Pada tahun 1883, 1892 dan 1893 M, perang kembali meletus, namun, lagi-lagi Belanda gagal merebaut Aceh. Pada saat itu, Belanda sebenarnya telah putus asa untuk merebut Aceh, hingga akhirnya, Snouck Hurgronye, seorang sarjana dari Universitas Leiden, menyarankan kepada pemerintahnya agar mengubah fokus serangan, dari sultan ke ulama. Menurutnya, tulang punggung perlawanan rakyat Aceh adalah para ulama, bukan sultan. Oleh sebab itu, untuk melumpuhkan perlawanan rakyat Aceh, maka serangan harus diarahkan kepad

  8. Komentar oleh sabri ichsan — 02/04/2010 @ 05:49

    para ulama. Saran ini kemudian diikuti oleh pemerintah Belanda dengan menyerang basis-basis para ulama, sehingga banyak masjid dan madrasah yang dibakar Belanda.

    Saran Snouck Hurgronye membuahkan hasil: Belanda akhirnya sukses menaklukkan Aceh. J.B. van Heutsz, sang panglima militer, kemudian diangkat sebagai gubernur Aceh. Pada tahun 1903, kerajaan Aceh berakhir seiring dengan menyerahnya Sultan M. Dawud kepada Belanda. Pada tahun 1904, hampir seluruh Aceh telah direbut oleh Belanda. Walaupun demikian, sebenarnya Aceh tidak pernah tunduk sepenuhnya pada Belanda. Perlawanan yang dipimpin oleh tokoh-tokoh masyarakat tetap berlangsung. Sebagai catatan, selama perang Aceh, Belanda telah kehilangan empat orang jenderalnya yaitu: Mayor Jenderal J.H.R Kohler, Mayor Jenderal J.L.J.H. Pel, Demmeni dan Jenderal J.J.K. De Moulin.
    Kekuasaan Belanda berlangsung hampir setengah abad, dan berakhir seiring dengan masuknya Jepang ke Aceh pada 9 Februari 1942. Saat itu, kekuatan militer Jepang mendarat di wilayah Ujong Batee, Aceh Besar. Kedatangan mereka disambut oleh tokoh-tokoh pejuang Aceh dan masyarakat umum. Hubungan baik dengan Jepang tidak berlangsung lama. Ketika Jepang mulai melakukan pelecehan terhadap perempuan Aceh dan memaksa masyarakat untuk membungkuk pada matahari terbit, maka, saat itu pula mulai timbul perlawanan. Di antara tokoh yang dikenal gigih melawan Jepang adalah Teungku Abdul Jalil. Kekuasaan para penjajah berakhir ketika Indonesia merdeka dan Aceh bergabung ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

    2. Silsilah

    Berikut ini daftar para sultan yang pernah berkuasa di kerajaan Aceh Darussalam:
    1. Sultan Ali Mughayat Syah (1496-1528 M)
    2. Sultan Salahuddin (1528-1537).
    3. Sultan Ala‘ al-Din al-Kahhar (1537-1568).
    4. Sultan Husein Ali Riayat Syah (1568-1575)
    5. Sultan Muda (1575)
    6. Sultan Sri Alam (1575-1576).
    7. Sultan Zain al-Abidin (1576-1577).
    8. Sultan Ala‘ al-Din Mansur Syah (1577-1589)
    9. Sultan Buyong (1589-1596)
    10. Sultan Ala‘ al-Din Riayat Syah Sayyid al-Mukammil (1596-1604).
    11. Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607)
    12. Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam (1607-1636).
    13. Iskandar Thani (1636-1641).
    14. Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam (1641-1675).
    15. Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678)
    16. Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688)
    17. Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699)
    18. Sultan Badr al-Alam Syarif Hashim Jamal al-Din (1699-1702)
    19. Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702-1703)
    20. Sultan Jamal al-Alam Badr al-Munir (1703-1726)
    21. Sultan Jauhar al-Alam Amin al-Din (1726)
    22. Sultan Syams al-Alam (1726-1727)
    23. Sultan Ala‘ al-Din Ahmad Syah (1727-1735)
    24. Sultan Ala‘ al-Din Johan Syah (1735-1760)
    25. Sultan Mahmud Syah (1760-1781)
    26. Sultan Badr al-Din (1781-1785)
    27. Sultan Sulaiman Syah (1785-…)
    28. Alauddin Muhammad Daud Syah.

  9. Komentar oleh sabri ichsan — 02/04/2010 @ 05:50

    29. Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam (1795-1815) dan (1818-1824)
    30. Sultan Syarif Saif al-Alam (1815-1818)
    31. Sultan Muhammad Syah (1824-1838)
    32. Sultan Sulaiman Syah (1838-1857)
    33. Sultan Mansur Syah (1857-1870)
    34. Sultan Mahmud Syah (1870-1874)
    35. Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903)

    Catatan: Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam (sultan ke-29) berkuasa pada dua periode yang berbeda, diselingi oleh periode Sultan Syarif Saif al-Alam (1815-1818).

    3. Periode Pemerintahan

    Kerajaan Aceh Darussalam berdiri sejak akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-20 M. Dalam rentang masa empat abad tersebut, telah berkuasa 35 orang sultan dan sultanah.

    4. Wilayah kekuasaan

    Di masa kejayaannya, wilayah kerajaan Aceh Darussalam mencakup sebagian pulau Sumatera, sebagian Semenanjung Malaya dan Pattani.

    5. Struktur pemerintahan

    Pada masa Sultan Ala‘ al-Din Mansur Syah (1577-1589) berkuasa, kerajaan Aceh sudah memiliki undang-undang yang terangkum dalam kitab Kanun Syarak Kerajaan Aceh. Undang-undang ini berbasis pada al-Quran dan hadits yang mengikat seluruh rakyat dan bangsa Aceh. Di dalamnya, terkandung berbagai aturan mengenai kehidupan bangsa Aceh, termasuk syarat-syarat pemilihan pegawai kerajaan. Namun, fakta sejarah menunjukkan bahwa, walaupun Aceh telah memiliki undang-undang, ternyata belum cukup untuk menjadikannya sebagai sebuah kerajaan konstitusional.

    Dalam struktur pemerintahan Aceh, sultan merupakan penguasa tertinggi yang membawahi jabatan struktural lainnya. Di antara jabatan struktural lainnya adalah uleebalang yang mengepalai unit pemerintahan nanggroe (negeri), panglima sagoe (panglima sagi) yang memimpin unit pemerintahan Sagi, Kepala Mukim yang menjadi pimpinan unit pemerintahan mukim yang terdiri dari beberapa gampong, dan keuchiek atau geuchiek yang menjadi pimpinan pada unit pemerintahan gampong (kampung). Jabatan struktural ini mengurus masalah keduniaan (sekuler). Sedangkan pemimpin yang mengurus masalah keagamaan adalah tengku meunasah, imam mukim, kadli dan para teungku.

    6. Kehidupan Sosial Budaya

    a. agama

    Dalam sejarah nasional Indonesia, Aceh sering disebut sebagai Negeri Serambi Mekah, karena Islam masuk pertama kali ke Indonesia melalui kawasan paling barat pulau Sumatera ini. Sesuai dengan namanya, Serambi Mekah, orang Aceh mayoritas beragama Islam dan kehidupan mereka sehari-hari sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam ini. Oleh sebab itu, para ulama merupakan salah satu sendi kehidupan masyarakat Aceh. Selain dalam keluarga, pusat penyebaran dan pendidikan agama Islam berlangsung di dayah dan rangkang (sekolah agama). Guru yang memimpin pendidikan dan pengajaran di dayah disebut dengan teungku. Jika ilmunya sudah cukup dalam, maka para teungku tersebut mendapat gelar baru sebagai Teungku Chiek. Di kampung-kampung, urusan keagamaan masyarakat dipimpin oleh

  10. Komentar oleh sabri ichsan — 02/04/2010 @ 05:54

    seseorang yang disebut dengan tengku meunasah.

    Pengaruh Islam yang sangat kuat juga tampak dalam aspek bahasa dan sastra Aceh. Manuskrip-manuskrip terkenal peninggalan Islam di Nusantara banyak di antaranya yang berasal dari Aceh, seperti Bustanussalatin dan Tibyan fi Ma‘rifatil Adyan karangan Nuruddin ar-Raniri pada awal abad ke-17; kitab Tarjuman al-Mustafid yang merupakan tafsir Al Quran Melayu pertama karya Shaikh Abdurrauf Singkel tahun 1670-an; dan Tajussalatin karya Hamzah Fansuri. Peninggalan manuskrip tersebut merupakan bukti bahwa, Aceh sangat berperan dalam pembentukan tradisi intelektual Islam di Nusantara. Karya sastra lainnya, seperti Hikayat Prang Sabi, Hikayat Malem Diwa, Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, merupakan bukti lain kuatnya pengaruh Islam dalam kehidupan masyarakat Aceh.

    b. Struktur sosial

    Lapisan sosial masyarakat Aceh berbasis pada jabatan struktural, kualitas keagamaan dan kepemilikan harta benda. Mereka yang menduduki jabatan struktural di kerajaan menduduki lapisan sosial tersendiri, lapisan teratasnya adalah sultan, dibawahnya ada para penguasa daerah. Sedangkan lapisan berbasis keagamaan merupakan lapisan yang merujuk pada status dan peran yang dimainkan oleh seseorang dalam kehidupan keagamaan. Dalam lapisan ini, juga terdapat kelompok yang mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad. Mereka ini menempati posisi istimewa dalam kehidupan sehari-hari, yang laki-laki bergelar Sayyed, dan yang perempuan bergelar Syarifah. Lapisan sosial lainnya dan memegang peranan sangat penting adalah para orang kaya yang menguasai perdagangan, saat itu komoditasnya adalah rempah-rempah, dan yang terpenting adalah lada.

    c. Kehidupan sehari-hari

    Sebagai tempat tinggal sehari-hari, orang Aceh membangun rumah yang sering disebut juga dengan rumoh Aceh. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, mereka bercocok tanam di lahan yang memang tersedia luas di Aceh. Bagi yang tinggal di kawasan kota pesisir, banyak juga yang berprofesi sebagai pedagang. Senjata tradisional orang Aceh yang paling terkenal adalah rencong, bentuknya menyerupai huruf L, dan bila dilihat dari dekat menyerupai tulisan kaligrafi bismillah. Senjata khas lainnya adalah Sikin Panyang, Klewang dan Peudeung oon Teubee. “oh nou keuh jielee sepenggal Sejarah ATJEH nyang lon teupee, neu baca Rakan-rakan meutuwah, beuk sampoe tuhoe keu Bansa.

    Uloen Tuan Nakeuh
    Sidroe Bansa Atjeh,

    TTD :

    SABRI ICHSAN

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. TrackBack URI

Kirim Komentar