Saya Keluar Aceh Untuk Selamatkan Nyawa

Posted by Headquarter Denmark | Europa | Selasa 20 Januari 2009 13:19

WAA News – Selasa 20/Januari/2009

Adi Alamsyah

Foto Doc-WAA

Adi, begitulah saya sering di panggil oleh teman – teman di “Denmark” sebuah Negara yang mengambil saya saat – saat Aceh di penuhi serdadu yang sengaja di datangkan pemerintan Indonesia untuk merebut Aceh yang hampir hilang. Saya bangun sigapkan tali pinggang di celana, menghayun langkah dengan pilu, keluar dari Aceh bumi endatu (nenek moyang) keturunan saya. Kepergian saya Kala itu atas sebab Aceh sedang benar – benar di landa konflik, jadi saya perlu berusaha menyelamat kan nyawa. Malaysia menjadi Negara pilihan bagi saya, pertama sekali, Negara tersebut di huni oleh rumpun melayu, orang – orang Aceh juga cukup banyak di sana menurut informasi yang saya dapat ketika di kampung.

Ternyata Malaysia bukanlah Negara terakhir bagi saya. Saya harus pergi lebih jauh untuk menoreh riwayat hidup yang masih panjang. Perang yang berterusan tak henti – henti di Aceh menjadikan saya harus memilih negara ketiga.  Denmark salah satu Negara yang punya kepedulian tinggi terhadap nilai –nilai kemanusian menawarkan saya kesana, sayapun menyambut senang ajakan wakil Negara di Europa itu yang datang menemui saya, tepatnya tahun 2005 merupakan detik bersejarah dalam hidup, saya di beritau harus segera meninggalkan Malaysia bahkan meninggalkan Asia. Ahamdulillah saya selamat dari deklarasi perang yang di umum Jakarta waktu itu. Hari ini Aceh sudah damai, harap – harap bisa berkekalan untuk selamanya.

Sementara saya sudah mulai pelan – pelan menemukan sebuah kehidupan yang benar, bahkan kebahagiaan dalam hidup mulai terasa. Kedamaian dalam hidup yang di wujudkan kerajaan Denmark bagi rakyatnya membuat saya semakin susah untuk melupakan negara yang tanahnya rata ini. Kepentingan rakyat menjadi halaman utama di Denmark, dan ini tidak bisa di miliki di Aceh dulu, tapi entah sekarang ? Di Denmark juga bebas melaksanakan ibadah agama masing-masing seperti mana di anuti oleh rakyatnya.Jika di perhitungkan dengan rapi, Denmark hanya ada banyak Ayam, banyak Babi dan gandum, tapi rakyatnya bisa menikmati dan merasakan kebahagiaan, termasuk kami yang berstatus rambut hitam, Pokok pangkalnya pemerintah jujur, adil, tidak korup dan bekerja untuk rakyat bukan untuk tuan. Setelah WAA lahir saya ambil keputusan untuk bergabung dengan harapan bisa berbuat apa saja yang di anggap baik untuk Aceh.  

Ke amanan dan ke damaian di Denmark bukan karena banyaknya polisi yang di tempatkan di kota – kota atau kampong – kampong, bukan karena ada tentara yang di tempatkan di mana-mana, tidak, tidak karena mereka, tapi karena sistim pemerintahan yang baik, itu saja,tulis Adi Alamsyah kepada WAA [Tarmizi Age, Aktivis WAA]

WAA dan ACCS sambut tahun baru di Meunasah Aceh Kanada

Posted by Headquarter Denmark | Canada | Sabtu 3 Januari 2009 18:08

ACCS (Achehnese Canadian Community Society) sebuah wadah/organisasi masyarakat Aceh di Canada dan World Acehnese Associaton ( WAA ) memusatkan penyambutan tahun Baru Islam 1430 Hijrah di Meunasah Aceh Darussalam Vancouver, BC, Canada, Pada tanggal 03 januari 2009 malam Minggu setelah sembahyang ‘Isya.

Dalam sambutan tahun baru kali ini, acara di peringati seperti lazimnya dengan susunan acara khas ke Acehan. Acara di di buka oleh Tgk.Qismullah Y dan kemudian di teruskan dengan baca Al-Quran oleh Tgk.Syamsul.

Tgk.Bakri Isa yang di angkat sebagai penceramah malam itu mengatakan, di tahun baru Hijrah ini mari Kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, pertebalkan iman dan perkokohkan ‘aqidah kita. Kita tinggal di barat tapi jangan ke barat-baratan, jangan sampai ke Acehan kita sirna di sini.

(lagi…)