Headlines News
Featured
Articles

Berita
Europa

Pro
Kontra

Bagaimana tampilan situs ini menurut anda?

Terimakasih atas kunjungannya, Kami minta waktu shobat sebentar untuk beri penilaian, Apa shobat Suka Desain dan Warna situs ini?

Pro!
Kontra!

Tgk. Abdul Razaq Mengisi Safari Ramadhan Dakwah, Pengajian dan zikir ke europa bersama warga Aceh

thumbnail

Published by Atjeh Waa on Monday, 27 June 2016 | 13:23

WAA : Aalborg - Rabu 22/06/16, World Acehnese Association (WAA), yang merupakan wadah persaudaraan seluruh rakyat Aceh di seluruh dunia dalam upaya memajukan masa depan Aceh kearah yang lebih baik. 

Dalam pertengaan pusa tahun ini, mengundang ketua dan pembina Majelis zikir kota Langsa (MAZKA), Tgk. Abdul Razaq atau yang biasa disapa dengan Tgk. Akhy ke negara Denmark. Untuk mengisi kegiatan safari ramadhan  dakwah, pengajian, zikir, silaturrahmi dan study banding di europa.

Tgk. Abdul Razaq berangkat dari Aceh kenegara Denmark pada tanggal 21 Juni 2016 melalui bandara Kualanamu, transit dimalaysia, Turky dan sampai di Airport Aalborg pada pukul 14:00. 

Di bandara Aalborg, Ruyani M. Daud sebagai logistic WAA dan rakan-rakan sudah lebih awal datang untuk memjemput, mereka langsung bersalaman dan menyapa disaat Tgk.Abdul Razaq keluar dari pintu imigrasi. " Peuhaba Tgk, ciban keuadaan dalam perjalanan ? Tgk geudjaweub alhamdulillah sehat dan lancar mandum. Djroëh dan seulamat katroëh neuteuka u Denmark " kata nekhasan, rakan-rakan geupeugah njoë keuh lagé njoë keudaan cuaca, peuna meunjum leupi Tgk ? dengan peunôh canda, bak hie mangat tapuasa 20 djeum hana that apoh apah sabeub keudaan nanggroë leupi.

Kemudian rombongan meunuju Mesjid kota Aalborg untuk melakukan shalat Dzuhur, setelah itu mereka melanjutkan perjalanan dengan kereta yang dipandu oleh M.Basri melihat pemandangan seputar kawasan Aalborg. 

Meunghabiskan watktu lebih kurang 3 jam, rombongan menuju kerumah tempat istirahat di kota Brovst yang sudah ditentukan oleh panitia dan sekaligus acara buka puasa perdana bersama Tgk.Abdul Razaq dan aktivis WAA serta rakan-rakan. 

Keesokan harinya, kamis 23/06/16 koordinator WAA dan ketua MAZKA ( nekhasan dan Tgk.Abdul Razaq ) mengunjungi kesalah satu tempat kantor pemerintah di kota madia Jammerburgt Kommune, Region Nordjylland, Denmark, untuk study banding tentang sistem dan mekenisme kerja pejabat dan pelayanan sosial kepada masyarakat Denmark yang membutuhkan bantuan serta pertolongan. 

Kunjungan kekantor itu sudah lebih awal dicadangkan oleh koordinator WAA dengan pihak pejabat pemerintah disana untuk study banding dan temuramah. Kedua tamu di sumbut oleh Jerte dan Mechal, dan diajak berkeliling keseluruh ruang kantor serta memperkenlakan kegiatan pejabat pemerintah disana dalam kepada bekerja. Apa saja tanggung jawab dan yang mereka kerjakan. Menurut Tgk. Abdul Razaq, pelayanan pejabat pemerintah dikantor tersebut sangat ramah, dan penuh keakraban. 


Hari jumaat, 24/06/16, Tgk. Abdul Razaq berangkat ke kawasan kota Hjørring dan tinggal disana selama 7 hari sesuai agenda yang sudah disussun oleh panitia WAA, seperti pengajian, zikir, tur, Silaturahmi dengan warga Aceh disana, buka puasa bersama dan Shalat tarawih di Mesjid Al-Salam.

Pekan depan akan menuju kekawasan kota Aars, tahap pertama kegiatan aktivitas pengajian, zikir diadakan tiap hari setelah shalat Ashar dan kususnya pada tanggai 02 Juli InsyaAllah ada acara zikir akbar di Meunasah Aceh. Disana juga melakukan shalat tarawih, Tgk.Abdul Razaq juga menjadi imam shalat hari raya aidul fitri 1437 H/2016, beserta khatib. di Hari raya ke empat, secara masyarakat Aceh di Denmark ada acara opeh house dan silaturrahmi. Pada hari itu ada tausiau yang disampaikan oleh Gure kita dari Aceh.

" Kedatangan Tgk Abdul Razak kenegara Denmark adalah satu moment yang luar biasa bagi kami warga Aceh di Denmark dalam kegiatan safari ramdhan, karena njoe baroë teuka Gure dari Aceh dalam beuleun puasa" tutur Syukri. Seumoga moment ini dapat digunakan untuk belajar apa saja dari Gure.

Kemudian pada tanggal 11/07/16 rombongan Tgk, akan melakukan perjalan kenegara Norwegia untuk bersilaturrahmi dengan masyarakat Aceh di kota Stavager selama sepekan. 

Oleh, sektaris WAA (Wareeh)

Puasa Ramadan 1437 H / 2016 di Denmark

thumbnail

Published by Atjeh Waa on Tuesday, 7 June 2016 | 10:47

WAA : Senin 1 Ramadhan 1437 H - Berdasarkan laporan pengamatan bulan, diperkirakan puasa Ramadhan tahun ini di negara denmark dimulai pada 6 Juni 2016 dan termasuk mengalami waktu puasa yang lama.
Di hari pertama puasa ramadhan mulai pada pukul 02:39 dan waktu berbuka puasa jam 22:12, berati muslim di negara Denmark mempunyai waktu berpuasa 19 jam 51 menit.
Mereka cuma mempunyai empat jam 9 menit untuk makan dan minum. Selebihnya, mereka harus berpuasa.
Kemudian di hari puasa kedua dan seterusnya terjadi peningkatan waktu hingga sampai akhir  ramadhan. 
Ramadan tahun ini juga akan menjadi puasa terpanas sepanjang sejarah karena sejumlah negara tengah berada puncak matahari.

Team WAA mengucapkan Selamat menunaikan ibadah puasa ramadhan 1437 H, kepada seluruh umat muslim seluruh dunia. Semoga ibadah ramadhan tahun ini menjadi ramadhan yang lebih baik lagi bagi kita semua.

Salam Ramadhan dari Team WAA

Darurat Militer di Aceh, berbagai kasus pelanggaran HAM tak jelas penanganan hukumnya

thumbnail

Published by Atjeh Waa on Thursday, 19 May 2016 | 12:36

WAAHari ini, 19 Mei 13 tahun lalu, Presiden Megawati Sukarnoputri dan Menko Polhukam Susilo Bambang Yudhoyono kala itu resmi memberlakukan status darurat militer di Aceh. 
Setelah pengumuman resmi pada tanggal 18 Mei jelang tengah malam (pukul 00:00), Jakarta segera mengirimkan 42 ribu pasukan TNI dan Polri untuk berperang dengan Gerakan Aceh Merdeka. Tak hanya mengirimkan personel, Jakarta juga mengerahkan peralatan tempur, seperti tank, kendaraan lapis baja, reo, panser, pesawat tempur Bronco, dan pelbagai alat perang lainnya.
Dalam langkah operasi TNI memburu ribuan anggota Gerakan Aceh Merdeka. Setiap jengkal tanah Aceh disisir, pasti ada luka, darah, suara tangisan dan nyawa masyarakat sipil yang melayang.
Tak perlu diceritakan banyak apa ekses dari pemberlakuan darurat perang itu. Masing-masing kita memiliki memori kelam terhadap penerapan status darurat militer itu –yang semua penduduk Aceh dewasa diharuskan memiliki kartu tanda penduduk merah putih ( KTP merah Putih) yang di tandatangani oleh pejabat sipil dan militer berparas logo burung garuda berisi pancasila. 
Namun Koordinator WAA , Nekhasan menyebutkan bahwa 13 tahun lalu Aceh pernah berada dalam status darurat militer. Selama masa perang itu, banyak kasus kekerasan, penyiksaan, dan pembunuhan tanpa proses hukum yang terjadi. Belum lagi kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan.
“Akibat penerapan Darurat Militer di Aceh, berbagai kasus pelanggaran HAM terjadi, baik itu berupa penyiksaan, pembunuhan, penghilangan orang secara paksa, pelecehan seksual, pemerkosaan dan penangkapan tanpa proses hukum,” ujar nya.
Padahal Komnas Hak Asasi Manusia mencatat ada 70 kasus pelanggaran HAM yang terjadi selama setahun pemberlakuan darurat militer. Sayangnya, hingga kini tak jelas penanganan hukumnya. Komnas HAM juga mencatat ada 205 kasus dugaan pelanggaran HAM yang terjadi sepanjan 1989 hingga 2005 menjadi lebai.


Memperingati Israk Mikraj Nabi Muhammad SAW di Aalborg

thumbnail

Published by Atjeh Waa on Monday, 9 May 2016 | 06:17

WAA : Aalborg - Sabtu 07 Mai 2016/1437 H, aktivis WAA dan rakan-rakan di Denmark memperingati Israk Mikraj Nabi Muhammad SAW di geudung Omni Huset Kota Aalborg. Acara pembukaan dimulai pada pukul 14:30 oleh Tgk.Hasan Basri. 
Dalam memeriahkan acara tersebut panitia menampilkan anak-anak Aceh di Denmark untuk Peuturi seujarah Islam melalui ajang Israk Mikraj Nabi Muhammad SAW. 
Protokol oleh, Timaira Jufri
Program acara:
1. Pembacaan Ayat suci Al-quran oleh adik, Helmiati Jufri dan pembacaan arti oleh adik, Bilqis Dara Phonna Tarmizi.
2. Qasidah yang dilantunkan oleh Group nasyid Putroe Aceh
3. Pidato oleh adek kita, Zahratul Ilmi Usman dengan tajuk " Israk Mikraj Nabi Muhammad SAW ".
4. Penutup acara dengan doa oleh Tgk.Suhadi Yahya
Acara tahu ini, aneuk-aneuk miet usia sepuluh tahun keuatas meulai dengan kegiatan mengasah motivasi yang sisaksikan oleh para orang tuwa, dan para undangan. seperti protokol, pembacaan ayat suci Alquran, qasidah Dan pidato.
Alhamdulillah, acara sukse Dan lancar berkat kerja sama Gure-gure, rakan-rakan dan para orang tuwa.

Sektaris WAA
Syukri Ibrahim

27 Rejab Peristiwa Israk & Mikraj Nabi Muhammad SAW

thumbnail

Published by Atjeh Waa on Wednesday, 4 May 2016 | 02:04

WAA - Pada tarikh 27 Rejab setiap tahun, umat Islam diseluruh dunia akan mengadakan majlis sambutan Israk dan Mikraj. Peristiwa Israk dan Mikraj berlaku pada 27 Rejab, setahun sebelum Hijrah Nabi Muhammad ﷺ dari Mekkah ke Madinah. Apabila bercerita tentang peristiwa Israk dan Mikraj ini, kita secara spontan akan terbayang kisah perjalanan Rasulullah ﷺ bersama malaikat Jibril dan Mikail yang boleh dibahagikan kepada dua fasa: 
  1. Israk yakni perjalanan Nabi Muhammad ﷺ menaiki binatang Buraq dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa, di Baitulmaqdis, Palestin.
  2. Mikraj ialah perjalanan dari Masjidil Aqsa ke Sidratil Muntaha di langit yang ketujuh. Perjalanan Nabi Muhammadﷺ ini telah diabadikan oleh Allah سبحانه وتعالى di dalam Al-Quran:
Firman Allah سبحانه وتعالى:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَاۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ ﴿١

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Surah Al-Israa’: Ayat 1).
Menariknya, keseluruhan perjalanan Rasulullah ﷺ hanya berlangsung pada satu malam. Para ulama, hadis, ulama feqah dan ulama tafsir secara umum menegaskan bahawa perisitiwa Israk dan Mikraj di mana kedua-duanya berlaku dalam satu malam dan dalam keadaan baginda ﷺ sedar. Ia berlaku pada jasad atau tubuh dan roh Nabi Muhammadﷺ bukannya roh sahaja.
Sebagaimana difahami daripada firman Allah dalam ayat tadi di mana Allah سبحانه وتعالى menegaskan “asra bi ‘abdihi lailan” yang bermaksud memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam. Perkataan hamba yang dimaksudkan di sini iaitu Nabi Muhammad ﷺ yang mana meliputi batang tubuh dan rohnya serentak bukannya rohnya sahaja.
Jika ia berlaku pada rohnya sahaja maka sudah tentu firman Allah itu berbunyi “asra bi rohi ‘abdihi lailan” yang bermaksud memperjalankan roh hamba-Nya pada waktu malam tetapi yang berlaku sebaliknya di mana Allah secara jelas menyatakan bahawa Dia telah memperjalankan hamba-Nya iaitu Nabi Muhammadﷺ dalam keadaan tubuh dan rohnya serentak.
Peristiwa ini pada pandangan orang yang tidak beriman atau mereka yang tipis imannya, mereka menyatakan bahawa peristiwa ini tidak mungkin akan berlaku atau pun mereka berbelah bahagi samada mahu mempercayainya atau pun sebaliknya. Tetapi bagi orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan rasul-Nya maka mereka tetap percaya dengan penuh keimanan kepada peristiwa ini.
Setelah Rasulullah ﷺ menceritakan apa yang telah terjadi padanya kepada masyarakat umum maka orang-orang kafir bertambah kuat mengejek dan mendustakan Baginda ﷺ. Fitnah terhadap Baginda ﷺ bertambah kuat malah ada juga di kalangan mereka yang sebelum ini telah memeluk Islam telah pun murtad kembali. Manakala bagi mereka yang begitu membenarkan Baginda ﷺ, maka iman mereka tetap utuh sebagaimana kita lihat kepada reaksi Sayyidina Abu Bakar apabila dia mendengar berita daripada orang ramai tentang apa yang telah diberitahu oleh Nabi Muhammad ﷺ lalu beliau dengan tegas menyatakan :
“Benar! Aku mengakui bahawa engkau merupakan Rasulullah . Jika baginda  mengatakan bahawa baginda telah diperjalankan lebih jauh daripada itu maka aku tetap beriman kepadanya.”
 Inilah ketegasan dan keyakinan yang tidak berbelah bahagi Sayyidina Abu Bakar dalam mempercayai Allah dan rasul-Nya sehingga beliau digelar as-Siddiq yang membawa maksud pembenar.
Selain itu, pernah juga diriwayatkan Nabi Muhammad ﷺ berjumpa dengan pelbagai keadaan manusia ketika di dalam perjalanan tersebut. Meskipun kisah tentang peristiwa bersejarah ini seringkali diulangcerita oleh para penceramah setiap kali sambutan Israk dan Mikraj diadakan, saya melihat roh dan intipati di sebalik peristiwa ini masih tidak meresap ke dalam jiwa masyarakat Islam.

A. Sebelum Israk dan Mikraj


Sebelum melalui kejadian Israk dan Mikraj, Nabi Muhammadﷺ mengalami pembedahan dada yang dilakukan oleh malaikat Jibrail dan Mika’il. Hati Baginda ﷺ dicuci dengan air zam-zam serta dibuang ketulan hitam (‘alaqah) iaitu tempat syaitan membisikkan was²nya. Kemudian dituangkan hikmah, ilmu dan iman ke dalam dada Rasulullah ﷺ. Setelah itu, dada Baginda ﷺ dijahit dan dimeterikan dengan “khatimin nubuwwah”.
Selesai pembedahan, didatangkan binatang bernama “Buraq” untuk ditunggangi oleh Rasulullah ﷺ dalam perjalanan luar biasa yang dinamakan “Israk” itu.

B. Semasa Israk


(Perjalanan dari Masjidil-Haram ke Masjidil-Aqsa):.
Sepanjang perjalanan (Israk) itu Nabi Muhammad ﷺdiiringi (ditemani) oleh malaikat Jibrail dan Israfil. Tiba di tempat² tertentu (tempat² yang mulia dan bersejarah), Rasulullah ﷺ telah diarah oleh Jibrail supaya berhenti dan bersolat sebanyak dua rakaat.
Di antara tempat² berkenaan adalah:
  1. Negeri Thaibah (Madinah), tempat di mana Rasulullah ﷺ akan melakukan hijrah.
  2. Bukit Tursina, iaitu tempat Nabi Musa A.S. menerima wahyu daripada Allah سبحانه وتعالى;
  3. Baitul-Laham (tempat Nabi Isa A.S. dilahirkan);.

Peristiwa Ajaib


Dalam perjalanan itu juga Nabi Muhammad ﷺ menghadapi gangguan jin ‘Afrit dengan api jamung dan dapat menyasikan peristiwa² simbolik yang amat ajaib.
Di antara peristiwa-peristiwa tersebut adalah seperti berikut :
    1. Kaum yang sedang bertanam dan terus menuai hasil tanaman mereka. apabila dituai, hasil (buah) yang baru keluar semula seolah-olah belum lagi dituai. Hal ini berlaku berulang-ulang. Rasulullah ﷺ dibertahu oleh Jibrail : “Itulah kaum yang berjihad “Fisabilillah” yang digandakan pahala kebajikan sebanyak 700 kali ganda bahkan sehingga gandaan yang lebih banyak.”
    2. Tempat yang berbau harum. Rasulullah ﷺ diberitahu oleh Jibrail : “Itulah bau kubur Masyitah (tukang sisir rambut anak Fir’aun) bersama suaminya dan anak²nya (termasuk bayi yang dapat bercakap untuk menguatkan iman ibunya) yang dibunuh oleh Fir’aun kerana tetap teguh beriman kepada Allah سبحانه وتعالى  (tak mahu mengakui Fir’aun sebagai Tuhan).”
    3. Sekumpulan orang yang sedang memecahkan kepala mereka. Setiap kali dipecahkan, kepala mereka sembuh kembali, lalu dipecahkan pula. Demikian dilakukan berkali-kali. Jibrail memberitahu Rasulullah ﷺ: “Itulah orang² yang berat kepala mereka untuk sujud (solat).”
    4. Sekumpulan orang yang hanya menutup kemaluan mereka (qubul dan dubur) dengan secebis kain. Mereka dihalau seperti binatang ternakan. Mereka makan bara api dan batu dari neraka Jahannam. Kata Jibrail : “Itulah orang² yang tidak mengeluarkan zakat harta mereka.”
    5. Satu kaum, lelaki dan perempuan, yang memakan daging mentah yang busuk sedangkan daging masak ada di sisi mereka. Kata Jibrail: “Itulah lelaki dan perempuan yang melakukan zina sedangkan lelaki dan perempuan itu masing² mempunyai isteri / suami.”
    6. Lelaki yang berenang dalam sungai darah dan dilontarkan batu. Kata Jibrail: “Itulah orang yang makan riba`.”
    7. Lelaki yang menghimpun seberkas kayu dan dia tak terdaya memikulnya, tapi ditambah lagi kayu yang lain. Kata Jibrail: “Itulah orang tak dapat menunaikan amanah tetapi masih menerima amanah yang lain.”
    8. Satu kaum yang sedang menggunting lidah dan bibir mereka dengan gunting besi berkali-kali. Setiap kali digunting, lidah dan bibir mereka kembali seperti biasa. Kata Jibrail:“Itulah orang yang membuat fitnah dan mengatakan sesuatu yang dia sendiri tidak melakukannya.”
    9. Kaum yang mencakar muka dan dada mereka dengan kuku tembaga mereka. Kata Jibrail:“Itulah orang yang memakan daging manusia (mengumpat) dan menjatuhkan maruah (mencela, menghinakan) orang.”
    10. Seekor lembu jantan yang besar keluar dari lubang yang sempit. Tak dapat dimasukinya semula lubang itu. Kata Jibrail: “Itulah orang yang bercakap besar (Takabbur). Kemudian menyesal, tapi sudah terlambat.”
    11. Seorang perempuan dengan dulang yang penuh dengan pelbagai perhiasan. Rasulullah ﷺ tidak memperdulikannya. Kata Jibrail: Itulah dunia. “Jika Rasulullah  memberi perhatian kepadanya, nescaya umat Islam akan mengutamakan dunia daripada akhirat.”
    12. Seorang perempuan tua duduk di tengah jalan dan menyuruh Rasulullah ﷺ berhenti. Rasulullah ﷺtidak menghiraukannya. Kata Jibrail: “Itulah orang yang mensesiakan umurnya sampai ke tua.”
    13. Seorang perempuan bongkok tiga menahan Rasulullah ﷺ untuk bertanyakan sesuatu. Kata Jibrail: “Itulah gambaran umur dunia yang sangat tua dan menanti saat hari kiamat.”
Setibanya di masjid Al-Aqsa, Nabi Muhammad ﷺ turun dari Buraq. Kemudian masuk ke dalam masjid dan mengimamkan solat dua rakaat dengan segala anbia` dan mursalin menjadi makmum.
Nabi Muhammad ﷺ terasa dahaga, lalu dibawa Jibrail dua bekas yang berisi arak dan susu. Rasulullah ﷺ memilih susu lalu diminumnya. Kata Jibrail: “Baginda  membuat pilhan yang betul. Jika arak itu dipilih, nescaya ramai umat baginda akan menjadi sesat.”

C.  Semasa Mikraj


(Naik ke Hadhratul-Qudus Menemui Allah سبحانه وتعالى):.
Didatangkan Mikraj (tangga) yang indah dari syurga. Nabi Muhammad h ﷺ dan Jibrail naik ke atas tangga pertama lalu terangkat ke pintu langit dunia (pintu Hafzhah).
  1. Di Tangga Pertama:
Nabi Muhammad ﷺ dan Jibrail masuk ke langit pertama, lalu berjumpa dengan Nabi Adam A.S. Kemudian dapat melihat orang² yang makan riba` dan harta anak yatim dan melihat orang berzina yang rupa dan kelakuan mereka sangat huduh dan buruk. Penzina lelaki bergantung pada susu penzina perempuan.
  1. Di Tangga Kedua:
Nabi Muhammad ﷺ. dan Jibrail naik tangga langit yang kedua, lalu masuk dan bertemu dengan Nabi ‘Isa A.S. dan Nabi Yahya A.S.
  1. Di Tangga Ketiga:
Naik langit ketiga. Rasulullah ﷺ bertemu dengan Nabi Yusuf A.S..
  1. Di Tangga Keempat:
Naik tangga langit keempat. Rasulullah ﷺ bertemu dengan Nabi Idris A.S..
  1. Di Tangga Kelima:
Naik tangga langit kelima. Rasulullah ﷺ bertemu dengan Nabi Harun A.S. yang dikelilingi oleh kaumnya Bani Israil..
  1. Di Tangga Keenam:
Naik tangga langit keenam. Nabi Muhammad ﷺ bertemu dengan Nabi². Seterusnya dengan Nabi Musa A.S. Rasulullah ﷺ mengangkat kepala (disuruh oleh Jibrail) lalu dapat melihat umat baginda sendiri yang ramai, termasuk 70,000 orang yang masuk syurga tanpa hisab..
  1. Di Tangga Ketujuh:
Naik tangga langit ketujuh dan masuk langit ketujuh lalu bertemu dengan Nabi Ibrahim Khalilullah yang sedang bersandar di Baitul-Ma’mur dihadapi oleh beberapa kaumnya. Kepada Rasulullah ﷺ.
Nabi Ibrahim A.S. bersabda, “Dikau akan berjumapa dengan Allah سبحانه وتعالى pada malam ini. Umatmu adalah akhir umat dan terlalu dha’if, maka berdoalah untuk umatmu. Suruhlah umatmu menanam tanaman syurga iaitu:
“LAH HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH.”
Mengikut riwayat lain, Nabi Ibrahim A.S. bersabda, “Sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahu mereka, syurga itu baik tanahnya, tawar airnya dan tanamannya ialah lima kalimah, iaitu:
“SUBHANALLAH, WAL-HAMDULILLAH, WA LA ILAHA ILLALLAH ALLAHU AKBAR dan WA LA HAULA WA LA QUWWATA ILLA BILLAHIL- ‘ALIYYIL-‘AZHIM.”
Bagi orang yang membaca setiap kalimah ini akan ditanamkan sepohon pokok dalam syurga.”
Setelah melihat beberpa peristiwa! lain yang ajaib. Rasulullah ﷺ dan Jibrail masuk ke dalam Baitul-Makmur dan bersolat (Baitul-Makmur ini betul² di atas Baitullah di Mekah).
  1. Di Tangga Kelapan:
Di sinilah disebut “al-Kursi” yang berbetulan dengan dahan pokok Sidratul-Muntaha. Rasulullah ﷺ menyaksikan pelbagai keajaiban pada pokok itu: Sungai air yang tak berubah, sungai susu, sungai arak dan sungai madu lebah. Buah, daun², batang dan dahannya berubah-ubah warna dan bertukar menjadi permata² yang indah. Unggas² emas berterbangan. Semua keindahan itu tak terperi oleh manusia. Baginda ﷺ dapat menyaksikan juga sungai Al-Kautsar yang terus masuk ke syurga. Seterusnya baginda masuk ke syurga dan melihat neraka berserta dengan Malik penunggunya.
  1. Di Tangga Kesembilan:
Di sini berbetulan dengan pucuk pokok Sidratul-Muntaha. Rasulullah ﷺmasuk di dalam nur dan naik ke Mustawa dan Sharirul-Aqlam. Lalu dapat melihat seorang lelaki yang ghaib di dalam nur ‘Arasy, iaitu lelaki di dunia yang lidahnya sering basah berzikir, hatinya tertumpu penuh kepada masjid dan tidak memaki ibu bapanya.
10.  Di Tangga Kesepuluh: 
Rasulullah ﷺ sampai di Hadhratul-Qudus dan Hadhrat Rabbul-Arbab lalu dapat menyaksikan Allah سبحانه وتعالى dengan mata kepalanya, lantas sujud. Kemudian berlakulah dialog antara Allah سبحانه وتعالى dan Muhammad, Rasul-Nya:
Allah سبحانه وتعالى: “Ya Muhammad!”
Nabi Muhammad ﷺ: “Labbaika.”
Allah سبحانه وتعالى: “Angkatlah kepalamu dan bermohonlah, Kami perkenankan.”
Nabi Muhammad ﷺ : “Wahai Tuhanku! Dikau telah ambil Ibrahim sebagai Khalil dan Dikau berikan dia kerajaan yang besar. Dikau berkata-kata dengan Musa. Dikau berikan Dawud kerajaan yang besar dan dapat melembutkan besi. Dikau kurniakan kerajaan kepada Sulaiman yang tidak Dikau kurniakan kepada sesiapa pun dan memudahkan Sulaiman menguasai jin, manusia, syaitan dan angin. Dikau ajarkan ‘Isa Taurat dan Injil. Dengan izin-Mu, dia dapat menyembuhkan orang buta, orang sufaq dan menghidupkan orang mati. Dikau lindungi dia dan ibunya daripada syaitan.”
Allah سبحانه وتعالى: “Aku ambilmu sebagai kekasih. Aku perkenankanmu sebagai penyampai berita gembira dan amaran kepada umatmu. Aku buka dadamu dan buangkan dosamu. Aku jadikan umatmu sebaik-baik umat. Aku beri keutamaan dan keistimewaan kepadamu pada hari qiamat. Aku kurniakan tujuh ayat (Surah Al-Fatihah) yang tidak aku kurniakan kepada sesiapa sebelummu. Aku berikanmu ayat² di akhir surah al-Baqarah sebagai suatu perbendaharaan di bawah ‘Arasy. Aku berikan habuan daripada kelebihan Islam, hijrah, sedekah dan amar makruf dan nahi munkar. Aku kurniakanmu panji² Liwa-ul-hamd, maka Adam dan semua yang lainnya di bawah panji-panjimu. Dan aku fardhukan atasmu dan umatmu lima puluh (waktu) solat.”

D. Selesai Munajat


Selepas selesai munajat, Nabi Muhammad ﷺ di bawa menemui Nabi Ibrahim A. S. kemudian Nabi Musa A.S. yang kemudiannya menyuruh Rasulullah ﷺ merayu kepada Allah سبحانه وتعالى agar diberi keringanan, mengurangkan jumlah waktu solat itu. Selepas sembilan kali merayu, (setiap kali dikurangkan lima waktu), akhirnya Allah سبحانه وتعالى perkenan memfardhukan solat lima waktu sehari semalam dengan mengekalkan nilainya sebanyak 50 waktu juga.

E. Selepas Mikraj


Nabi Muhammad ﷺ turun ke langit dunia semula. Seterusnya turun ke Baitul-Maqdis. Lalu menunggang Buraq perjalanan pulang ke Mekah pada malam yang sama. Dalam perjalanan ini baginda bertemu dengan beberapa peristiwa yang kemudiannya menjadi saksi (bukti) peristiwa Israk dan Mikraj yang amat ajaib itu (Daripada satu riwayat peristiwa itu berlaku pada malam Isnin, 27 Rejab, kira-kira 18 bulan sebelum hijrah).
(Sumber : Kitab Jam’ul-Fawaa`id)

WAA Siap Buka Hubungan Kerjasama Dengan Yayasan YAASIN

thumbnail

Published by Atjeh Waa on Sunday, 1 May 2016 | 07:46

WAA : Kopenhagen/Denmark -  World Acehnese Association (WAA) yang tidak asing lagi kita ketahui adalah salah satu oranisasi yang lahir pada 2007 hingga saat ini. Dengan discussion via mobil telepon, Ketua yayasan YAASIN dan Koordinator WAA ( Aris - nekhasan ) membicarakan untuk mengadakan hubungan kerja sama dalam bidang Social antar bangsa.

seperti sumbangan warga luar negara yang ingin menyumbang untuk di salurkan ke fakir miskin , tempat atau sarana pendidikan, baik sekolah dasar, menengah bahkan sekaligus ke pendidikan agama ( dayah / pasantren ).

Alhamdullilah dalam perbincangan singkat tersebut, WAA dengan Yayasan YAASIN siap untuk bekerjasamaa dalam bidang social. InsyaAllah di rencanakan awal bulan may 2016 kerja sama antara Yayasan Yaasin dengan WAA di resmikan.

Di harapkan dengan adanya kerjasama antara Organisasi WAA yang bermukim di Europa utara alias Denmark ini, akan mengupayakan peningkatan dalam berbuat dan membantu sesuatu yang baik untuk masyarakat Aceh yang masih sangat memerlukan uluran tangan kita semua. ( Aris )

WAA Pindah Alamat ke Sankt Peders Gade 12, 2. 279, 9400 Nørresundby

thumbnail

Published by Atjeh Waa on Friday, 8 April 2016 | 02:26

WAA - Forening World Acehnese Association nu flytte til nye Adresse / Organisasi World Acehnese Association sekarang pindah lamat ke tempat yang baru: Sankt Peders Gade 12, 2. 279, 9400 Nørresundby - Aalborg/Denmark.
Meulai tanggai 02/04/16, rakan-rakan aktivis WAA kalheuh musyawarah dalam peukara pinah alamat u teumpat njang baro karena teumpat awai kameupulang, dari Rughaven 39 f, 9000 Aalborg - keu Sankt Peders Gade 12, 2. 279, 9400 Nørresundby - Aalborg/Denmark. 

Untuk djinoë sigala surat meunjurat ka bak alamat njang baro njan. Teurimonggeunaseh ateuh silaga perhatian rakan-rakan mandum !




Salam,


Team WAA
http://www.waa-aceh.org/
Email : atjehwaa@gmail.com

Saksi Ultimatum Belanda Terhadap Aceh Sudah Berumur 143 Tahun

thumbnail

Published by Atjeh Waa on Sunday, 27 March 2016 | 03:07

WAA - Pantai Cermin di Ulee Lheue menjadi saksi bisu ketika kapal-kapal perang Belanda merapat di sana pada Maret 1873. Dari atas geladak kapal, F.N.Nieuwenhuyzen sebagai Komisaris Pemerintah Hindia Belanda membacakan pernyataan perang terhadap Kerajaan Aceh pada 26 Maret 1873.
Pernyataan perang itu adalah puncak dari perseteruan antara Belanda Aceh yang sebenarnya riak-riak memburuknya hubungan kedua negeri itu telah muncul jauh sebelumnya terutama setelah beberapa kali Belanda melanggar Traktat London 1824 yang berisi pernyataan antara Inggris dan Belanda untuk menghormati kedaulatan dan integritas Kerajaan Aceh.
Pada Maret 1957, Sultan Aceh dan Belanda juga pernah menandatangani kesepakatan berdamai, setelah sebelumnya beberapa kali Belanda mengancam kedaulatan Aceh.
Namun setahun berselang, Belanda menduduki Siak, dan membuat perjanjian Siak 1858. Sultan Siak menyerahkan daerah Deli, Langkat, Asahan dan Serdang kepada Belanda. Padahal, sebelumnya, sejak masa Sultan Iskandar Muda (1604 – 1635) daerah-daerah itu berada dibawah kekuasaan Aceh. Tindakan itu tentu saja membuat murka Kerajaan Aceh.
Pada 1871, lagi-lagi terjadi keadaan yang membuat Aceh kian cemas. Tanda-tanda Belanda akan mencengkramkan kaki di Aceh kian kuat. Ini terlihat dari munculnya “Traktat Sumatera”, sebuah kesepakatan antara kerajaan Belanda dan Inggris. Isinya antara lain menyatakan bahwa “Belanda bebas memperluas kekuasaannya di seluruh pulau Sumatera” sehingga dengan demikian Belanda tidak berkewajiban lagi menghormati kedaulatan dan integritas Kerajaan Aceh yang tercantum dalam “Traktat London 1824″.
Dalam buku Perang Kolonial Belanda Aceh yang disusun oleh sebuah tim khusus bentukan Pemerintah Aceh tahun 1977, disebutkan bahwa Kerajaan Aceh merasa terancam oleh “Traktat Sumatera” ini.
Sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat, dalam keadaan demikian Kerajaan Aceh berusaha mencari bantuan dari negara-negara yang dianggap bersahabat, antara lain Turki, Amerika, dan Italia.
Dalam bulan September 1871 Belanda menempuh suatu garis kebijaksanaan baru, yakni politik tanpa agresi, tetapi dipersiapkan sedemikian rupa sehingga dapat tercapai kehendak pemerintah Hindia Belanda untuk melindungi pihak-pihak yang perlu dilindungi serta bertujuan memperkokoh pengaruh Belanda yang menganggap Sumatera menjadi haknya.
Pada Oktober 1872 pemerintah Hindia Belanda mengirim surat kepada Sultan Aceh, Tuanku Mahmud Syah, yang berisi “keinginan untuk mengirimkan sebuah komisi yang diketuai oleh Residen Riau guna menyelesaikan beberapa hal yang menyangkut kepentingan kedua belah pihak”.
Dua bulan berselang, pada Desember 1872 Sultan Aceh menyampaikan surat jawaban kepada Residen Riau melalui sebuah perutusan yang terdiri dari Syahbandar Panglima Tibang Muhamad beserta empat orang hulubalang lainnya, yang meminta agar perutusan Belanda menunda kedatangannya beberapa bulan lagi karena Kerajaan Aceh sedang menanti hasil kunjungan utusannya menghadap Sultan Turki.
Dalam perjalanan kembali dari Riau pada tanggal 25 Januari 1873 utusan Aceh dengan menumpang kapal “Marnix” singgah di Singapura serta mengadakan hubungan dengan konsulat Amerika dan Italia.
Dalam buku Perang Kolonial Belanda di Aceh disebutkan, Konsul Amerika sendiri bersama para utusan tersebut mempersiapkan sebuah konsep perjanjian kerja sama sederajat antara Amerika dan Aceh dalam menghadapi ancaman Belanda.
Namun, M. Nur El Ibrahimy, menemukan fakta lain. Dalam bukunya Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh yang terbit tahun 1993, Ibrahimy menyebut Amerika membantah terlibat, meski memang Konsul Amerika di Singapura mengakui menerima kedatangan utusan Aceh. Ibrahimy sendiri merujuk pada penulis Belanda Paul van’t Veer, penulis buku De Atjeh Oorlog, terbitan tahun 1969. Ibrahimy menyebut adanya pengkhiatan atau konspirasi di sana. (Baca: Kisah ‘Pengkhianatan Tengku Arifin’ Pemicu Belanda Perangi Aceh)
Dalam pada itu, Konsul Belanda di Singapura, Read (meski sebagai Konsul Belanda, ia adalah orang Inggris) mengawatkan pemerintah Hindia Belanda dan memberitahukan bahwa konsul-konsul Amerika dan Italia membantu kedudukan Aceh. Akibatnya adalah keputusan pemerintah Belanda di Nederland pada tanggal 18 Februari 1873 yang memerintahkan Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia (sekarang Jakarta), James Loudon, agar mengirim angkatan laut ke Aceh, dan kalau perlu disertai pasukan yang kuat.
Adanya kekuatan lain yang hendak turut berperan seperti keadaan sebelum tahun 1824 di pulau Sumatera mengkhawatirkan pihak Belanda.
Belanda segera mengambil tindakan karena khawatir tentang kelanjutan hasi perundingan di Singapura antara Aceh dengan Amerika Serikat yang dapat merugikannya. Dengan diperolehnya berita bahwa sebuah skuadron Amerika di bawah Laksamana Jenkins akan berangkat dari Hongkong ke Aceh pada tanggal 1 Maret 1873, Gubernur Jenderal Hindia Belanda mengangkat F.N.Nieuwenhuyzen sebagai Komisaris Pemerintah Hindia Belanda serta memerintahkannya menuju Aceh untuk mengusahakan agar Sultan Aceh mengakui kedaulatan Belanda.
Andaikata pengakuan dimaksud telah diperoleh, diperkirakan bahwa kekuatan-kekuatan ketiga akan terhambat untuk melakukan intervensi.
Nieuwenhuyzen berangkat pada tanggal 7 Maret menuju Aceh dengan sebuah kapal perang (“Citadel van Antwerpen”) dan sebuah kapal pemerintah sipil (“Siak”); sesampai di Pulau Pinang ia mendapat tambahan kekuatan lagi dua buah kapal perang milik Belanda (“Marnix” dan “Coehoorn”).
Ia tiba di perairan Aceh pada tanggal 22 Maret dan kemudian menyampaikan ultimatum kepada Sultan Aceh, Tuanku Mahmud Syah. Jawaban Sultan tidak memenuhi keinginan Belanda dan karena itu pada tanggal 26 Maret 1873 Nieuwenhuyzen memaklumkan perang kepada Kerajaan Aceh.
Pada tangga l5 April tahun itu juga Belanda telah siap di perairan Aceh dengan 6 buah kapal perang (“Djambi”, “Citadel van Antwerpen”, “Marnix”, “Coehoorn”, “Soerabaja”, “Sumatra”), 2 buah kapal angkatan laut pemerintah (“Siak” dan “Bronbeek”), 5 buah barkas, 8 buah kapal peronda, 1 buah kapal komando, 6 buah kapal pengangkut, serta 5 buah kapal layar, masing-masing ditarik oleh kapal pengangkut, yaitu 3 buah untuk pasukan artileri, kavaleri dan pekerja-pekerja, 1 buah untuk amunisi dan perlengkapan, serta 1 buah untuk orang-orang sakit.
Komandan armada ialah kapten laut J.F. Koopman. Angkatan Darat dan Laut itu yang seluruhnya terdiri dari 168 orang perwira (140 orang Eropa, 28 orang bumiputera),  3198 orang bawahan (1098 orang Eropah dan 2100 orang bumiputera), 31 ekor kuda untuk perwira, 149 ekor kuda pasukan, 1000 orang pekerja paksa dengan 50 orang mandor, 220 orang wanita bumiputera (8 orang setiap kompi) serta 300 orang laki-laki bumiputera sebagai pelayan perwira-perwira, dipimpin oleh mayor jenderal J.H.R. Köhler, dibantu oleh wakilnya merangkap komandan infanteri kolonel E.C. van Daalen, disertai pula oleh kepala dan wakil kepala staf, ajudan-ajudannya, komandan-komandan batalion, Zeni, kesehatan dan topografi.
Pada tanggal 6 April untuk pertama kali pasukan Belanda mendarat di Pante’Ceureumen, sebelah Timur Ulèe Lheue, untuk melakukan pengintaian; mereka dipukul mundur oleh pejuang-pejuang Aceh, dan barulah pada tanggal 8 April berikutnya seluruh induk pasukan Belanda didaratkan di bumi Aceh.
Pada hari pendaratan pertama saja ‘kapal perang “Citadel van Antwerpen” memperoleh dua belas tembakan meriam Aceh. Perang kolonial yang terlama dalam sejarah Nusantara dimulai.
Sesaat setelah tentara Belanda mendarat pada tanggal 6 April 1873 dengan serta-merta mereka digempur oleh pasukan Kerajaan Aceh. Setelah beberapa hari bertempur barulah Belanda dapat merebut Mesjid Raya di Kutaraja (sekarang Banda Aceh) pada 10-4-1873, akan tetapi karena tekanan pasukan-pasukan Aceh yang dipimpin antara lain oleh Teuku Imeum Lueng Bata, mereka kemudian terpaksa meninggalkannya juga.
Pada tanggal 14 April 1873 Belanda berusaha lagi merebut Mesjid Raya, dan dalam pertempuran ini panglima pasukannya J.H.R. Köhler tewas kena peluru pejuang Aceh. Tujuan Belanda menguasai Dalam atau Kraton Sultan Aceh dapat digagalkan.
Mereka dipukul mundur dengan menderita kekalahan hebat, yakni 45 orang tewas (termasuk 8 orang perwiranya) dan 405 orang luka-luka (di antaranya 23 orang perwira).
Tiga hari setelah Jenderal Köhler tewas, Belanda mengundurkan diri ke pantai, dan setelah mendapat izin dari pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 23 April, mereka lalu membongkar sauh meninggalkan pantai Aceh pada tanggal 29 April 1873.
Penyerbuan Belanda yang pertama seluruhnya gagal. Dalam pada itu pemerintah Hindia Belanda mempersiapkan lagi angkatan perangnya untuk melakukan penyerangan kedua, dan selama persiapan ini Angkatan Lautnya memblokade perairan pantai Aceh untuk menghalangi Kerajaan Aceh berhubungan dengan dunia luar.
Pihak Aceh pun tidak tinggal diam menghadapi keadaan ini. Di Penang terbentuk sebuah “Dewan delapan”, yang terdiri dari 4 orang bangsawan Aceh, 2 orang Arab, dan 2 orang Keling kelahiran Penang, untuk mewakili kepentingan Aceh di luar negeri, mengusahakan dan mengangkut perbekalan perang dengan menembus blokade Belanda serta berusaha menghubungi tempat-tempat lain di Nusantara agar timbul juga perlawanan terhadap Belanda.
Belanda menamai perang ini sebagai Atjeh Oorlog atau Perang Aceh. Sementara orang Aceh memberi sejumlah nama: Prang Beulanda (perang Belanda), Prang Gómpeuni (perang kompeni), Prang Sabi (perang Sabil) dan Prang Kaphé (PerangKafir), dan siapa yang gugur karena memerangi kafir (maksudnya orang Belanda karena tidak seagama dengan orang Aceh pada masa peperangan itu) dianggap mati syahid sebagaimana tercermin dalam Hikayat Perang Sabil.
J.S.Furnivall (1944-1976) menganggap Perang Aceh ini berakhir pada tahun 1904. Sedangkan J.Jongejans (1939) yang pernah menjadi residen Aceh, mengemukakan bahwa dengan gugurnya ulama-ulama Tiro dapatlah dianggap perang Belanda di Aceh telah berakhir (1910-1913).
Adapun J.Kreemer (1922) menganggap Perang Aceh berakhir pada 1910. Ia membuat periodisasi Perang Aceh dengan membaginya dalam tujuh masa, yaitu:
(1) ekspedisi pertama di bawah Jenderal J.H.R. Köhler (5-29 April 1873),
(2) ekspedisi kedua di bawah Jenderal J.van Swieten sampai dengan pendudukan Dalam (kraton) Sultan Aceh (9 Desember 1873-24 Januari 1874),
(3) masa konsolidasi pendudukan Aceh (April 1874-Juni 1878),
(4) masa aksi kekerasan dan penaklukan seluruh Aceh Besar (Juni 1878-September 1879),
(5) masa pemerintahan sipil (1881-1884),
(6) kemunduran yang terus-menerus (1884-1896), dan
(7) masa aksi kekerasan dan berakhirnya Perang Aceh (1896-1910).
Seorang pengarang Belanda yang lain, sesudah Perang Dunia II, Paul van ‘t Veer, dalam bukunya De Atjeh Oorlog, menganggap bahwa “Perang Aceh” berakhir pada 1942, tahun masuknya Jepang. Susunannya: Perang Aceh Pertama pada 1873; Perang Kedua, 1874-1880: Ketiga, pada 1884-1896 dan Perang Aceh Keempat, 1898—1942.[] Dari berbagai sumber

America

Random
Post

News In
Pictures

Conference

Asia

Afrika

Religion

Berita
Aceh

Dari
Opini

Masalah
Pendidikan

Tentang
Budaya

Fin Us on
Facebook

Video
WAA